Disimpan
Cerpen Perjalanan Hidup

Hari Pertama Terbang

Hari Pertama Terbang

Hari pertama naik pesawat sendirian ternyata bukan tentang pesawatnya. Lebih ke hal-hal random yang numpang lewat sebelum sampai tujuan.

Dan semuanya dimulai dari ojek online.

Ojol Lebih Jujur dari Podcast

Perjalanan ke bandara ditemani abang ojol yang ramah dan terlalu terbuka. Sepanjang jalan dia cerita: tentang anaknya yang minggu lalu kepalanya bocor kena kursi plastik, tentang mantannya yang pengen buru-buru dinikahin padahal hidupnya masih acak-acakan.

Gue cuma bisa jawab, “Wah… iya, Bang.”

Kadang orang nggak butuh solusi. Cuma butuh didengerin, walaupun pendengarnya stranger yang cuma numpang duduk di jok belakang.

Salah Terminal, Salah Jalan Hidup

Sampai bandara, gue pede banget. Masuk terminal dengan langkah yakin.

Lima menit kemudian baru sadar: ini terminal 3. Padahal tiket gue terminal 2.

Di situ gue mikir, hidup gue konsisten banget. Kalau nggak salah jurusan, ya salah terminal.

Ketemu Orang Asing yang Sama-sama Bingung

Di terminal yang salah itu, gue ketemu cewek random. Dia kelihatan panik.

“Mas, ini cetak tiketnya gimana ya? Saya baru pertama naik pesawat.”

Gue pengen jawab jujur: “Mbak, tenang. Saya juga.”

Akhirnya kita sama-sama berdiri depan mesin, pura-pura paham. Pencet ini-itu. Deg-degan bareng.

Ajaibnya, lima menit kemudian tiketnya keluar.

Kami senyum lega. Lalu lanjut antri.

Lima belas menit berdiri, baru dikasih tau: salah antrian.

Ketawa kecil. Pasrah. Dan akhirnya kami pisah, dia ke Kalimantan, gue ke Jogja.

Kami nggak sempet kenalan. Dan mungkin itu justru bikin ceritanya pas.

Di Dalam Pesawat

Pramugara ngitung penumpang pake tasbih digital. Sekilas gue mikir, “Wah, ini pasti bulan baik. Dapet berkat.”

Ternyata enggak. Yang dapet cuma sakit kuping.

Pas take-off, kuping gue sakitnya kaya ditusuk dari dalem. Gue nahan. Lama-lama nggak kuat.

Akhirnya gue bisik ke orang sebelah: “Bu, nanti lagi ditindiknya ya.”

Dia nggak ketawa. Tapi gue merasa lega.

Semua Orang Terlalu Buru-buru

Begitu pesawat mendarat, orang-orang langsung berdiri. Padahal pesawatnya belum buka pintu.

Gue mikir: “Ini tiket 800 ribu, kenapa pada buru-buru amat keluarnya?”

Dengan duit segitu, di kampung gue udah bisa bayar kontrakan sebulan. Kamar mandi dalem pula. Listrik urusan belakangan.

Epilog

Perjalanan ini ngajarin gue satu hal: tujuan itu penting, tapi side quest-nya yang bikin cerita hidup.

Ojol yang curhat. Terminal yang salah. Orang asing yang cuma ketemu sebentar. Kuping sakit. Antrian gagal.

Semua nggak ada di itinerary. Tapi justru itu yang gue inget.

Dan mungkin, hidup emang nggak harus lurus. Kadang nyasar dikit, biar ceritanya nggak kosong.