Disimpan
Refleksi Quarter Life Hidup

Challenge Diri Sendiri

Challenge Diri Sendiri

Ada fase di hidup di mana tantangan terbesar bukan naik gunung, bukan lari marathon, bukan resign dari kerjaan toxic.

Tapi makan sendirian di tempat umum tanpa pura-pura main HP.

Makan Sendiri

Awalnya kelihatan sepele. Masuk tempat makan, pesan menu, duduk.

Masalahnya bukan di makannya. Masalahnya di kepala sendiri.

“Ini orang sendirian amat ya?”

“Ditungguin nggak sih?”

“Kasian amat hidupnya.”

Padahal yang mikir begitu cuma kita. Orang lain sibuk sama nasinya sendiri.

Sendok tetep masuk mulut. Nasi tetep habis. Dan dunia nggak runtuh cuma karena kita makan tanpa temen.

Ngopi Sendiri

Ngopi sendiri lebih tricky. Karena ngopi itu identik dengan ngobrol.

Duduk di kedai kopi sendirian, liat orang datang berdua, bertiga, rame, ketawa.

Gue cuma duduk, megang gelas, sesekali ngeliatin orang lalu lalang.

Dan anehnya, di situ justru muncul satu hal: hening yang jujur.

Nggak perlu ngisi obrolan. Nggak perlu sok seru. Cuma ada gue, kopi, dan pikiran yang akhirnya mau muncul ke permukaan.

Nonton Bioskop Sendiri

Ini puncaknya.

Beli tiket sendiri. Masuk studio sendiri. Duduk sendiri.

Lampu mati. Film mulai.

Dan tiba-tiba gue sadar: film tetap jalan walaupun gue sendirian.

Nggak ada yang nanya, “Dateng sama siapa?” Nggak ada yang peduli.

Cerita tetap sampai ending. Popcorn tetap habis. Dan emosi tetap kena.

Dewasa Itu Berani Sendirian

Dulu gue kira dewasa itu: punya uang, punya pasangan, punya arah hidup yang jelas.

Ternyata salah satunya adalah: nggak kabur dari kesendirian.

Berani duduk sendiri. Berani hadir tanpa ditemani. Berani menikmati sesuatu tanpa validasi.

Bukan karena nggak butuh orang lain, tapi karena nggak selalu harus ditemani untuk merasa utuh.

Dan dari semua challenge yang gue coba, ini yang paling kecil kelihatannya, tapi paling kerasa dampaknya.

Karena ternyata, sendiri itu bukan kalah.

Kadang, itu cuma tanda kita lagi belajar berdiri tanpa pegangan.